Terlebih dahulu saya ingin mengucapkan selamat hari pendidikan Nasional pada tanggal 02 Mei 2020, berhubung tulisan ini mengenai Pendidikan dan juga ini bentuk inisiatif pribadi saya untuk memperingati hari pendidikan lewat tulisan singkat ini walau terkesan lambat. Saya menulis ini karena tugas dari dosen sih yang mengharuskan tiap mahasiswanya menulis di blognya masing-masing, dan kebanyakan mahasiswa dari yang ia ajar banyak mengeluh termasuk saya sendiri hikksss maaf yahh pak. Tapi ini langkah yang baik untuk melatih tiap mahasiswanya menulis, dari pada menulis status-status yang unfaedah di medsos kalian masing-masing mending memulai hal yang baru dan berfaedah bagi diri sendiri dan Insya Allah juga berfaedah bagi orang lain.
Kata "pendidikan" mungkin hal yang sudah terdengar biasa dewasa ini. Keberadaan sekolah yang banyak dan pesat perkembanganya membuat seseorang dapat menikmati pendidikan dengan mudah.
Dunia pendidikan begitu luas, setiap individu sepanjang hidupnya perrnah mendengar istilah pendidikan, bahkan dari semenjak kecil setiap individu pernah mengalami pendidikan. Pendidikan pertama yang didapat oleh setiap indivdu tentu berawal di dalam keluarganya, tahap selanjutnya ia dapatkan di sekolah bahkan perguruan tinggi juga masyarakat. Namun demikian, tidak setiap individu memahami apa sebenarnya makna pendidikan itu sendiri. Dalam prakteknya, terkadang makna pendidikan disamakan dengan pengajaran dan pelatihan. Alhasil, karena kesalahan pemaknaan ini membuat para pendidik di tingkat persekolahan khususnya, cenderung menekankan pada pelaksanaan konsep ‘pengajaran’ yang lebih menekankan pada salah satu aspek perkembangan peserta didik
Pendidikan adalah pembelajaran pengetahuan, keterampilan, dan kebiasaan sekelompok orang yang diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya melalui pengajaran, pelatihan, atau penelitian. Pendidikan sering terjadi di bawah bimbingan orang lain, tetapi juga memungkinkan secara otodidak.
Pendidikan di mata Freire yang dalam bukunya tentang ‘Politik Pendidikan’ Politik sebagai pilot project dan agen untuk melakukan perubahan sosial guna membentuk masyarakat baru. Sebagai dasar untuk melakukan perubahan, pendidikan merupakan wadah dan 'surat perjanjian khusus’ dengan masyarakat yang memegang dominasi untuk menentukan kehidupan sosial di masa yang akan datang. Bagi Freire, pendidikan memuat konsep sekolah di dalamnya, tetapi lebih luas sekedar konsep sekolah. Sekolah hanyalah salah satu bagian yang memang cukup penting di mana pendidikan mengambil tempat. Yakni tempat di mana laki-laki dan perempuan menciptakan sekaligus menjadi hasil hubungan-hubungan sosial dan pedagogis. Selain itu, dalam pandangan Freire, pendidikan merupakan latihan untuk memaknai makna kekuasaan, dan komponen yang terlibat di dalamnya dalam berkomunikasi tidak dalam pola kuasa-menguasai. Sehingga dinamika pendidikan terjadi dalam hubungan yang dialektis antara individu-individu dan kelompok untuk secara bersama-sama melepaskan diri dari kehidupan yang mempunyai akar sejarah yang sarat dengan dominasi sehingga membatasi ruang gerak individu dan kelompok secara struktural.
Pendidikan dapat berfungsi sebagai sarana yang di gunakan untuk mempermudah integrasi generasi muda ke dalam logika dari sistem yang sedang berlaku dan menghasilkan kesesuaian terhadapnha, atau dia menjadi “Praktik kebebasan”, yakni sarana dengan apa manusia berurusan secara kritis dan kreatif dengan realitas, serta menemukan cara berperan-serta untuk mengubah dunia mereka.
Jadi, pendidikan dapat kita maknai sebagai sebagai “Napas Bangsa” yang di mana panjang dan pendek napasnya tergantung Young Generations (generasi muda). Coba kita cermati kembali rumusan pendiri bangsa yang terdapat pada mukadimah UUD 1945, khususnya alinea keempat, “Kemudian daripada itu untuk membentuk suatu Pemerintah Negara Indonesia yang melindunggi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial, maka disusunlah kemerdekaan kebangsaan Indonesia itu dalam suatu Undang-Undang Dasar Negara Indonesia”.
Ini menandakan bahwa pendiri bangsa kita ini sangat cerdas dapat kita lihat bagaimana pejuang-pejuang atau tokoh-tokoh bangsa yang memiliki kecerdasan intelektual emosional serta spritualitas. Coba kita melihat sejarah kembali bagaimana para pemimpin bangsa dan pengagas kemerdekaan adalah mereka orang-orang berpendidikan. Sebagaimana misalnya Presiden Soekarno, Moh. Hatta, Agus Salim dan lain sebagainya. Mereka menjadi pengagas dan pemikir dalam meraih kemerdekaan bangsa Indonesia. Perkumbulan Boedi Oetomo juga lahir dari kaum terdidik. Begitu juga dengan pemimpin negara yang sekarang ini, mereka adalah orang-orang yang terdidik. Kita liat bagaimana seorang Soekarno yang ia adalah sosok pejuang serta pemikir, dapat kita lihat bagaimana cerdasnya seorang Soekarno bagaimana ia menggali nilai-nilai Pancasila dan menjadikan sebagai ideologi bangsa kita ini dan kecerdasannya ini di akui oleh dunia. Dan juga dapat kita lihat kaum intelektual yaitu Ki Hadjar Dewantara atau biasa disebut dengan bapak pendidikan ia adalah aktivis pergerakan kemerdekaan Indonesia, kolumnis, politisi, dan pelopor pendidikan bagi kaum pribumi Indonesia dari zaman penjajahan Belanda. Ia adalah pendiri Perguruan Taman Siswa, suatu lembaga pendidikan yang memberikan kesempatan bagi para pribumi untuk bisa memperoleh hak pendidikan seperti hanya para priyayi maupun orang-orang Belanda.
Lantas apa kabar pendidikan masa kini????
Masih bisakah melahirkan kaum-kaum terdidik masa kini???
Perlu kita ketahui sebuah Negara di katakana maju bila pendidikan di Negara tersebut juga maju. Bagai mana dengan Indonesia? Kita melihat saat ini kesadaran siswa maupun mahasiswa saat ini dalam kewajiban belajarnya sudah hilang.Saya memperhatikan sendiri bagaimana mahasiswa sekarang yang minat baca bukunya mulai berkurang, kurangnya ruang-ruang dialektis ruang-ruang diskusi, mahasiswa sekarang di sibukkan oleh gawaynya, Mereka hanya ingin yang instan tanpa berusaha dengan gigih mereka sekarang lebih mengandalkan internet mereka tergantung dengan internet alhasil ketika ujian atau semesteran nilai mereka sangat tidak memuaskan dan harus mengikuti pengulangan untuk memperbaiki nilai. Dan juga salah masalah yang dihadapi bangsa Indoensia sekarang adalah pendidikan moral, dimana moral bangsa Indonesia sekarang sudah mengalami kemunduran. Ini bisa dilihat dari banyaknya kasus-kasus moral yang berada di Indonesia dalam 1 dekade terakhir. Dari murid yang berani melawan guru, bullying, dan kasus-kasus kenakalan remaja lainnya. Sepintar atau secerdas apapun seseorang jika dia tidak bermoral, maka dia hanya akan menjadi sampah masyarakat, sebab agama tampa ilmu sama halnya dengan buta dan Ilmu tanpa agama sama halnya dengan pincang.
Cita-cita luhur kemerdekaan yakni mencerdaskan kehidupan bangsa, seolah masih jauh dari ideal. Masih banyak anak bangsa yang belum dapat mencicipi pendidikan dengan layak. Masih banyak saudara-saudara kita di pelosok-pelosok menginginkan mengeyam pendidikan tapi pendidikan saat ini masih tidak merata di seluruh Indonesia dan masih banyaknya yang harus di perbaiki mengenai Pendidikan kita saat ini. Tugas kita sebagai masyarakat Indonesia harus membantu pendidikan yang ada di Indonesia terutama pendidikan moral. Pepatah mengatakan, “kita tidak menyiapkan masa depan untuk generasi muda, akan tetapi kita menyiapkan generasi muda untuk masa depan, Sebab pendidikan menjadi napas bagi bangsa.
Setiap tempat adalah sekolah
Setiap orang adalah guru
Setiap buku adalah ilmu
Daftar Referensi:
https://lokadata.beritagar.id/chart/preview/tingkat-pendidikan-angkatan-kerja-2019-1563776955
http://hasbullahcivis.blogspot.com/2015/10/makna-pendidikan-pengajaran-dan.html?m=1
https://m.lampost.co/berita-pendidikan-sebagai-agen-pembudayaan.html
,👍👍👍
BalasHapus